Tuhan….
Bertahun-tahun aku mengetuk pintu-MU
lamaa..sekali..tidak dibuka..
setelah dibuka
baru aku sadar…
ternyata aku mengetuknya dari dalam…
Money politic, white collar crime, character assassination, lobi politik, beberapa istilah yang begitu akrab di telinga kita membuat ( sebagian ) kepercayaan kita kepada pamangku gawe Republik tercinta ini luntur. Tapi apakah kita akan membiarkan kepercayaan ini menjadi seperti sepotong kain yang kumal, yang kemudian kita buang begitu saja? Tentu tidak ..!
Mungkin enaknya kita memang tidak usah saling menyalahkan, mungkin lebih baiknya kita rangkul kesalahan-kesalahan kita sendiri untuk kita jadikan guru dalam proses pembelajaran hidup ini. Kita pakai lagi kepercayaan ini dan kenakan dengan semestinya apapun diri kita, duduk di kursi kita masing-masing, yang memang punya jiwa pemimpin biar memimpin, yang merasa bisa jadi corong rakyat biar menjadi anggota dewan yang terhormat, pak kyai biar ngurusi akhlak dan moral, si pengamat biar terus saja mengamati dan berkomentar, tukang becak biar berjuang mempertahankan hidup ( kalo bisa jadi gubernur, ya syukuuurr…). Kalo begitu jadinya kayaknya kita tinggal ongkang-ongkang menikmati hidup, nggak mikir njlimet dan obat tidurpun jadi nggak laku. Itu karena sebagian orang ingin berperan dalam suksesi kepemimpinan ( atau pingin dianggap pemimpin ), masalah ekonomi, politik, sosial-budaya, dan tetek bengek lainnya, intervensi as-bun ( asal bunyi ) yang sama sekali bukan wilayah serta keahliannya, hanya bermotif keinginan-keinginan serta ambisi sesaat yang akhirnya mencetak manusia kualitas aspal.
Tapi itulah dinamika, sah-sah saja kita mengaktualisasi diri dan mengeksploitasi kemampuan serta memanfaatkan kebebasan berpendapat. Asal tahu saja semua kembali ke ageman dan kursi kita masing-masing.
Sepenggal puisi diatas dari Rumi ini menurut saya begitu menyentuh dan menggugah. Esensi yang terkandung didalamnya tidak lebih dari sekedar penghayatan kepada Sang Nurani . Tapi bagaimanapun yang sederhana, yang sekedar ternyata membutuhkan pemahaman dan perenungan yang dalam dari hakekat kesadaran tinggi kita.
Dunia yang penuh dengan cemohan dan ejekan, demoralisasi dan dehumanisasi ternyata mengajarkan banyak hal kepada kita ( merasakah kita? ). Tekanan demi tekanan yang kita hadapi memberi setetes air kepada Sang Nurani yang akhirnya memberi kita beribu tetes air mata penghayatan akan kesadaran.
Kebanyakan dari kita dalam proses mampir minum lebih kepada penerimaan-penerimaan stimulan dan obyek-obyek dari tangkapan mata dan olah pikir kita yang tinggi ( outside-in ), tapi banyak juga yang menggenapinya dengan mulai melihat diri kita yang kecil, dari mana kita, akan kemanakah kita, kepada siapa kita percaya ( inside-out ). Surfing kepada diri kita yang sederhana ini, yang kecil ini ternyata membawa ke dunia tanpa batas, pemikiran tanpa batas serta mungkin menyentuh langit kesadaran tinggi kita. Dan penjelajahan ini menjadi suatu hal yang kompleks sekaligus menyenangkan dan menakjubkan. Percayalah kita nanti akan sebingung anak ayam tanpa induk.◄►
Tidak ada komentar:
Posting Komentar