Waspadai Radikal Bebas
Persoalan kehidupan yang dihadapi masyarakat modern sangat rentan akan timbulnya penyakit kronis. Kesibukan, polusi, kontaminasi, radiasi (matahari dengan lapisan ozon tipis), kelelahan, kekenyangan, kesenangan, kelaparan, stres, dan berbagai penyakit yang ditimbulkannya, akan berakibat tubuh mengeluarkan oksigen radikal atau radikal bebas yang berlebihan.
Hal tersebut diungkapkan Prof. dr. Winsy F. Th. Warouw, Sp K.K.(K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, juga Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unsrat dan RSUP Manado dalam acara seminar "Kedokteran Komplementer dan Herbal Medicine Approach pada Pelayanan Kesehatan" yang diselenggarakan Kangzen-Kenko (KK) Indonesia di Hotel Grand Preanger Bandung, Minggu (15/8).
Radikal Bebas kini telah menjadi topik penelitian pada akhir abad ini bersama super oxide dismutase (SOD) karena akibat radikal bebas ini menimbulkan banyak masalah kesehatan. Radikal bebas itu sendiri adalah bahan kimia yang secara alamiah terdapat pada tanaman, binatang, dan manusia. Fungsinya mencegah terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleh virus, bakteri serta bahan-bahan lain (asing) yang menyerang sel tubuh. Produksi yang berlebihan akan menyerang sel tubuh sendiri dengan cara yang sama seperti menyerang bakteri dan benda asing," paparnya.
Dalam ilmu kedokteran atau ilmu kesehatan, lanjutnya, orang itu bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi bagaimana tetap sehat dan bugar. Munculnya radikal bebas tampaknya belum diminati secara serius oleh kalangan dokter karena dalam kurikulum kedokteran tidak ada. Lebih banyak menekankan pada antiperadangan dan biasanya digunakan kelompok steroid, yang cenderung pada obat-obatan, padahal obat-obatan itu selalu ada masalah efek sampingnya.
"Kita harus mengetahui perkembangan kedokteran, terutama pada kegiatan klinik. Mulai berkembang bukan hanya pada evidence based medicine tetapi bergeser pula secara holistik serta competence based medicine. Perkembangan ini tidak semudah yang diduga, penuh kontroversi karena secara teoretis pada kurikulum fakultas kedokteran belum diajarkan pendekatan-pendekatan holistik secara sistematik. Terutama, karena kendala waktu dan background understanding," jelasnya.
Namun demikian, menurutnya, negara-negara maju seperti AS, Jepang, Cina, telah melakukan pengobatan berupa herbal atau suplemen. Di Indonesia seperti jamu yang tidak memiliki efek samping, namun membuat dokter jadi alergi.
"Namun herbal medicine atau fitofarmaka ini memiliki peluang untuk berkembang. Apalagi pada saat ini perusahaan farmasi semakin banyak mempromosikan pengobatan herbal," ujarnya.
Lebih jauh Winsy mengatakan, kemajuan teknologi dalam mempersiapkan produk-produk kesehatan dari bahan-bahan alami menunjukkan manfaat bagi dunia medis. Seperti nirwana SOD (antioksidan alamiah), natural tree extract sheet (Natesh), serta super green food yang mengandung elemen-elemen gizi utama, sangat bermanfaat menciptakan kebugaran serta dapat berfungsi sebagai ajuvan atau imunostimulator alamiah dan detoksifikasi yang aman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar