Rabu, 10 Desember 2008

Mana Kursiku?



Tuhan….
Bertahun-tahun aku mengetuk pintu-MU
lamaa..sekali..tidak dibuka..
setelah dibuka
baru aku sadar…
ternyata aku mengetuknya dari dalam…

Money politic, white collar crime, character assassination, lobi politik, beberapa istilah yang begitu akrab di telinga kita membuat ( sebagian ) kepercayaan kita kepada pamangku gawe Republik tercinta ini luntur. Tapi apakah kita akan membiarkan kepercayaan ini menjadi seperti sepotong kain yang kumal, yang kemudian kita buang begitu saja? Tentu tidak ..!
Mungkin enaknya kita memang tidak usah saling menyalahkan, mungkin lebih baiknya kita rangkul kesalahan-kesalahan kita sendiri untuk kita jadikan guru dalam proses pembelajaran hidup ini. Kita pakai lagi kepercayaan ini dan kenakan dengan semestinya apapun diri kita, duduk di kursi kita masing-masing, yang memang punya jiwa pemimpin biar memimpin, yang merasa bisa jadi corong rakyat biar menjadi anggota dewan yang terhormat, pak kyai biar ngurusi akhlak dan moral, si pengamat biar terus saja mengamati dan berkomentar, tukang becak biar berjuang mempertahankan hidup ( kalo bisa jadi gubernur, ya syukuuurr…). Kalo begitu jadinya kayaknya kita tinggal ongkang-ongkang menikmati hidup, nggak mikir njlimet dan obat tidurpun jadi nggak laku. Itu karena sebagian orang ingin berperan dalam suksesi kepemimpinan ( atau pingin dianggap pemimpin ), masalah ekonomi, politik, sosial-budaya, dan tetek bengek lainnya, intervensi as-bun ( asal bunyi ) yang sama sekali bukan wilayah serta keahliannya, hanya bermotif keinginan-keinginan serta ambisi sesaat yang akhirnya mencetak manusia kualitas aspal.
Tapi itulah dinamika, sah-sah saja kita mengaktualisasi diri dan mengeksploitasi kemampuan serta memanfaatkan kebebasan berpendapat. Asal tahu saja semua kembali ke ageman dan kursi kita masing-masing.
Sepenggal puisi diatas dari Rumi ini menurut saya begitu menyentuh dan menggugah. Esensi yang terkandung didalamnya tidak lebih dari sekedar penghayatan kepada Sang Nurani . Tapi bagaimanapun yang sederhana, yang sekedar ternyata membutuhkan pemahaman dan perenungan yang dalam dari hakekat kesadaran tinggi kita.
Dunia yang penuh dengan cemohan dan ejekan, demoralisasi dan dehumanisasi ternyata mengajarkan banyak hal kepada kita ( merasakah kita? ). Tekanan demi tekanan yang kita hadapi memberi setetes air kepada Sang Nurani yang akhirnya memberi kita beribu tetes air mata penghayatan akan kesadaran.
Kebanyakan dari kita dalam proses mampir minum lebih kepada penerimaan-penerimaan stimulan dan obyek-obyek dari tangkapan mata dan olah pikir kita yang tinggi ( outside-in ), tapi banyak juga yang menggenapinya dengan mulai melihat diri kita yang kecil, dari mana kita, akan kemanakah kita, kepada siapa kita percaya ( inside-out ). Surfing kepada diri kita yang sederhana ini, yang kecil ini ternyata membawa ke dunia tanpa batas, pemikiran tanpa batas serta mungkin menyentuh langit kesadaran tinggi kita. Dan penjelajahan ini menjadi suatu hal yang kompleks sekaligus menyenangkan dan menakjubkan. Percayalah kita nanti akan sebingung anak ayam tanpa induk.◄►

Sekolah dan Belajar

SEKOLAH DAN BELAJAR

Sekolah-Lulus-Bekerja itulah yang menjadi moto kebanyakan para orangtua dalam menaruh harapan anak-anaknya. Tapi apakah tidak ironis melihat sepuluh ribu sarjana antri mendaftar dan menjalani tes untuk bisa menjadi PNS, atau berdesak-desakan mengambil nomor ujian untuk menjadi salah satu karyawan/i sebuah mega mall padahal mungkin mall tersebut baru selesai dibangun satu tahun kemudian karena pondasinya baru digali dan semennya belum dibeli. Kemudian kita lihat kasus lain, tidak sedikit para profesional dan intelektual yang sudah ‘ditampung’ di sebuah perusahaan setelah bekerja satu atau dua tahun merasa tidak cocok bekerja di perusahaan itu, yang gajinya kecil lah, yang bosnya tidak kapabel, suasana kerja bikin stres, macam-macamlah alasannya pada intinya mereka kepingin resign dan bekerja di tempat lain untuk peningkatan. Lalu ketika sudah bekerja di tempat lain apakah bisa dijamin alasan-alasan itu tidak muncul lagi.
Sekolah memang penting untuk meningkatkan derajat intelektual dan kepekaan sosial kita, lebih penting lagi ijasah kelulusan sangat berperan dalam menentukan grade dan level kita di sebuah perusahaan. Tapi apa yang kita dapat kalau kita sekolah hanya copying behaviour, meniru-niru kebanyakan orang tanpa mau mengerti hakekat belajar dan pembelajaran sesungguhnya. Dimanapun kita belajar tujuan hidup kita adalah kemakmuran, dalam arti luas sehat jasmani-rohani, bebas finansial, memiliki rasa aman dan aktualisasi diri.
Dewasa ini banyak muncul kursus-kursus serta pelatihan untuk merespon kebutuhan masyarakat modern, dari kursus yang bersifat skillknown seperti kursus sempoa, bahasa, teknologi, sampai kepemimpinan. Kemudian pelatihan-pelatihan yang lebih bersifat selfknown seperti mereduksi stres, optimalisasi otak kanan, penguatan daya ingat, sampai hipnotispun menjadi salah satu pilihan untuk menambah kemampuan dan pengetahuan kita.
Manusia sebenarnya adalah sumber munculnya masalah yang mereka hadapi sendiri, manusia juga sumber kemakmuran dan kejayaan yang mereka dapatkan. Didalam diri manusia tersimpan potensi kekuatan untuk menimbulkan bencana atau ketentraman. Manusia hanya harus terus-menerus menggali potensi tak terbatasnya, kemudian mengaplikasikannya sesuai dengan kehendak nurani dan meletakkannya pada batas-batas yang benar, tidak merusak, bermanfaat dan menumbuhkan cinta kasih serta ketentraman dengan manusia lain.
Kemampuan dan kecerdasan manusia adalah tak terbatas, buktinya adalah seiring dengan kemampuan dan kecerdasan tak terbatas yang terus digali maka jaman dan peradaban terus mengalami perkembangan. Peradaban akan mengalami stagnasi kalau tidak ada manusia yang berani menantang dirinya sendiri untuk menggali kemampuan tak terbatasnya. Satu abad yang lalu manusia berpikir mustahil untuk bisa terbang atau mendarat di bulan, sekarang burung besi yang namanya pesawat tiap hari lewat diatas kita dan berita tentang stasiun luar angkasa di bulan tidak membuat kita pingsan karena kaget. Pada abad 21 ini kita dibuat kaget dan kagum dengan yang namanya AI (Artificial Intellegence) atau kecerdasan buatan yang telah di set sedemikian rupa menjadi yang namanya robot atau kamera infra merah yang mampu menangkap fenomena energi gaib pada diri manusia atau pada lingkungan luarnya (yang kebanyakan orang menyebut namanya hantu). Jadi mungkin pada masa-masa yang akan datang yang namanya hantu akan menjadi teman kita dan sudah tidak menakutkan karena setiap hari dapat kita lihat melalui teknologi, ya kan?. Atau pesulap David Blaine yang mencoba menantang batas kekuatan fisiknya dengan dibungkus es padat selama 3 hari dan ternyata dia mampu melakukannya. Itu semua menjadi beberapa bukti bahwa manusia mempunyai potensi tak terbatas, lalu apa yang membuat kita merasa terbatas dan mustahil melakukan sesuatu untuk kemakmuran kita? Pikiran kitalah yang membatasinya, pekerjaan pikiran adalah menimbang dan menghitung, pikiran yang sering membuat kita cemas dan khawatir dan pikiran kitalah yang mengatakan kepada kita bahwa kita mustahil melakukan ini dan itu yang akhirnya kita jadi takut melangkah.